Aku merindukan sungai kecil Pada kedua matamu Aku melihat dirimu Sebagai pagi, bait puisi Juga impian Aku mendapatimu Pada segala hal yang menggairahkan Aku sudah melampaui dosa-dosa malam Aku sudah memaafkan Zaman edan pada dirimu
bulu matamu: padang ilalang Di tengahnya sebuah sendang Kata sebuah dongeng. Dulu ada seorang musafir datang bertapa untuk membuktikan apakah benar wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang Ia tak percaya, maka ia menyelam Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus maha dalam. Arwahnya menjelma pusaran air berwarna hitam Bulu matamu: padang ilalang.
Puisi membawa saya melakukan perjalanan. Meninggalkan rumah. Memasuki kota demi kota. Memahami dunia di luar diri. Memahami hal-ihwal kesedihan dan kebahagiaan. Puisi menjadi kekasih, kawan perjalanan, ibu, sekaligus guru bagi kehidupan saya. Saya menulis puisi dalam setiap perjalanan, namun hakikatnya puisi yang menuntun saya untuk memahami setiap perjalanan. Saya sering kali merasa bermain-ma…
Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam percakapan puitik Rieke Diah Pitaloka dan Agus Noor. Dari satu puisi ke puisi lainnya, ada semacam tema yang membuat puisi-puisi itu saling terkait dan terikat. Puisi menjadi ruang untuk saling berbagi, juga menjadi semacam jeda, untuk menikmati kenangan dan hal-hal lainnya. Maka, puisi-puisi dalam buku ini, seakan berada dalam ketegangan yang menga…
Berbeda dengan puisi tema lain yang kadang memiliki motif tertentu, entah itu politis maupun estetis, bagi saya puisi cinta—meminjam istilahnya Umbu Landu Paranggi—adalah puisi “zero referensi”. Puisi yang tak membutuhkan rujukan laiknya puisi dengan tema yang lebih spesifik. Begitu pun puisi bertema maut (dalam pengertian luas) yang menjadi bagian kedua di buku ini. Sebagaimana cint…
lalu mereka yang terkapar pahlawankah jadinya yang ditinggal begitu saja darah-darah mereka bersaut berperang dengan nasib “setia hamba setia berbalas, setia tuanku setia terbatas” * Dalam teater tradisi Mendu, tokoh Mendu digambarkan sebagai pahlawan. Namun, pada sudut lain, perempuan dalam posisi yang begitu rendah. Perempuan-perempuan ditempatkan sebagai gundik, pelayan, perempua…
Karena aku selalu bersama para perempuan Maka aku masuk dalam daftar hitam (Nizar Qabbani) Kamus Para Pecinta (Qâmûs al-‘Âsyiqîn) adalah salah satu dari sekian buku antologi puisi Nizar Qabbani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sebagaimana puisi-puisi cinta Nizar lainnya, 66 puisi dalam antologi ini pun menarik—atau memang tak ada puisi cinta Nizar yang tidak menarik. Nizar …
Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi “politisi” dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang “politisi dalam puisi”, ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politik…
Apakah saya akan menulis puisi sampai mati? Berkali-kali saya pernah mencoba berhenti menulis puisi.Namun, panggilan menulis itu datang lagi.Beberapa tahun saya abaikan puisi karena kesibukan kantor.Namun, huruf-huruf bermunculan dalam mimpi-mimpi saya.Ia mengikat tubuh saya, seolah memaksa saya untuk kembali menuliskannya.Pengembaraan di jalan puisi sering kali membuat saya tersentak.Menulis p…
Sebagai bangsa Indonesia, sudah sepatutnya kita berbangga dengan kekayaan budaya negeri ini, terutama di bidang kesusastraan. Berbagai puisi, prosa, dan pantun telah tercipta sejak zaman dahulu. Para pujangga Indonesia, dengan tata bahasanya yang bagus, menciptakan beragam kesusastraan dengan nilai seni tinggi. Apa sajakah jenis puisi, prosa, dan pantun yang dihasil pujangga kita? Bagaimana …